berbagi tugas kuliah

Just another WordPress.com site

Makalah Mikrobiologi ” Penyakit Virus Pada Bayi Rotavirus Penyakit Diare ”

pada 17 Desember 2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   LATAR BELAKANG

 

Gastroenteritis (juga dikenal sebagai gastro, flu lambung, bug perut di Inggris, dan flu perut, meskipun tidak terkait dengan influenza) adalah peradangan pada saluran pencernaan, yang melibatkan baik lambung dan usus kecil (lihat juga gastritis dan enteritis) dan mengakibatkan pada diare akut. Peradangan paling sering disebabkan oleh infeksi dari virus tertentu atau kurang sering oleh bakteri, racun mereka, parasit, atau reaksi negatif terhadap sesuatu dalam makanan atau obat. Seluruh dunia, pengobatan yang tidak memadai Gastroenteritis membunuh 5-8.000.000 orang per tahun, dan merupakan penyebab utama kematian di kalangan bayi dan anak di bawah 5 tahun.(1)

Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, biasa mencapai lebih dari 500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam keadaan normal bias menghasilkan lebih dari 500 gram, tapi konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam kedaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bias mencapai lebih dari 90%.

Diare bukanlah penyakit yang dating dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa jenis diare berdasarkan penyebab diare, yaitu:     Diare osmotic, Diare sekretorik, Sindroma malabsorbsi, Sindroma malabsorbsi,      Diare eksudatif, Perubahan pasase usus, Pertumbuhan bakteri berlebih, Diare karena infeksi virus (Rotavirus).(2)

Setidaknya 50% dari kasus gastroenteritis akibat penyakit bawaan makanan disebabkan oleh norovirus. Lain 20% dari kasus, dan mayoritas kasus yang parah pada anak-anak, disebabkan oleh rotavirus. Lain agen virus signifikan antara lain adenovirus.(1)

Infeksi saluran pencernaan pada anak-anak memang cenderung bisa berakibat fatal.Salah satunya adalah diare. Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang, dimana diare adalah penyebab penting kekurangan gizi. Penyebab kematian utama karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya.

Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar 3 kali atau lebih dalam satu hari dan tinja atau feses yang keluar berupa cairan encer atau sedikit berampas, kadang juga disertai darah atau lendir.Sebagian besar (sekitar 90%) diare disebabkan oleh infeksi rotavirus. Sebagian kecil diare disebabkan, diare dapat disebabkan infeksi bakteri, parasit, jamur.

Kematian akibat penyakit diare di Indonesia juga terukur lebih tinggi dari pneumonia (radang paru akut) yang selama ini didengungkan sebagai penyebab tipikal kematian bayi.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007 dari Kementerian Kesehatan, tingkat kematian bayi berusia 29 hari hingga 11 bulan akibat diare mencapai 31,4 persen. Adapun pada bayi usia 1-4 tahun sebanyak 25,2 persen. Bayi meninggal karena kekurangan cairan tubuh.

Diare masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Walaupun angka mortalitasnya telah menurun tajam, tetapi angka morbiditas masih cukup tinggi. Rotavirus merupakan 50% penyebab diare pada anak balita di Negara maju. Di negara berkembang seperti Brazil dan Indonesia angkanya berkisar 30% – 40% (tahun 1970an).

Menurut WHO, rotavirus menyebabkan kematian sekitar 527.000 anak per tahun. Di Indonesia sendiri, sejak 2001 terdapat tiga proyek pemantauan rotavirus di rumah sakit yang melibatkan lebih dari 5.000 anak. Hasilnya terungkap bahwa rotavirus menyebabkan sekitar 53%, 46%, dan 63% rawat inap serius di tiga rumah sakit tersebut. Persentase rotavirus sebagai penyebab rawat inap diare di Indonesia juga termasuk paling tinggi di Asia, yakni mencapai 60%.

Rotavirus dikenal sebagai penyebab sebagian besar masalah gastroentritis atau masalah pencernaan yang menyebabkan diare pada bayi. Masalah ini juga mengakibatkan lamanya waktu perawatan di rumah sakit pada bayi di dunia.(3)

 

 

B. RUMUSAN MASALAH

 

1)      Apakah yang dimaksud dengan rotavirus?

2)      Bagaimanakah penyakit diare pada bayi ?

3)      Bagaimanakah transmisi penyakit diare pada bayi?

4)      Bagaimanakah pencegahan penyakit diare pada bayi?

 

 

  1. C.   TUJUAN PENULISAN

 

1)      Untuk mengetahui penyebab diare pada bayi

2)      Untuk mengetahui penanganan penyakit diare pada bayi

3)      Untuk mengetahui transmisi penyakit diare pada bayi

4)      Untuk mengetahui pencegahan penyakit diare pada bayi

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   ROTAVIRUS

 

  • DEFENISI

 

Rotavirus merupakan virus yang termasuk dalam famili reoviridae dan merupakan patogen yang paling penting pada manusia dalam kelompok reoviridae. Golongan virus reoviridae meliputi tiga genus yang dapat menginfeksi manusia yaitu Reovirus yang terdiri dari 3 serotipe, Rotavirus dengan 2 serotipe, Orbivirus yang terdiri dari beberapa serotipe.

Rotavirus adalah penyebab diare pada bayi dan anak-anak yang paling umum. Banyak anak-anak paling tidak mengalami diare akibat rotavirus pada usia 2 sampai 3 tahun.

Rotavirus adalah virus yang apabila dilihat dari mikroskop electron, pada pinggir luar kapsid yang terlihat sebagai pinggiran suatu roda. Roda ini mengelilingi jari-jari yang memancar dari inti yang menyerupai pusat.

Rotavirus adalah virus yang sulit dibiakkan. Virus ini menginfeksi sel-sel dalam fili usus halus sehingga fili usus halus menjadi tumpul dan mengalami kerusakan. Selanjutnya, permukaan usus dengan fili yang tumpul  menyebabkan tidak mampu mengabsorpsi nutrisi makanan. Pada akhirnya akan keluar cairan yang biasanya disebut diare.(4)

 

  • KARAKTERISTIK

 Struktur Rotavirus

Nama virus rota didasarkan pada gambaran mikroskop elektron dari pinggir luar kapsid sebagai pinggiran suatu roda yang mengelilingi jari-jari yang memancar dari inti yang menyerupai pusat. Partikel-partikel mempunyai kapsid berkulit ganda dan garis tengah berkisar antara 60-75nm. Partikel-partikel virus berkulit tunggal yang tidak mempunyai kapsid luar yang kasar dan bergaris tengah 50-60 nm. Inti dalam dari partikel bergaris tengah 33-40 nm. (5)

 

Ciri Khas Rotavirus

 

Virion Ikosahedral, diameter 60-80 nm, kulit kapsid dobel
Komposisi RNA (15%), Protein (85%)
Genom RNA untai ganda, Linear, Bersegmen (10-12 segmen), total ukuran genom 16-17kbp
Protein Sembilan protein struktural, inti berisi beberapa enzim
Amplop Tidak ada (amplop semu transient, transient pseudoenvelope terdapat selama terjadi morfogenesis partikel rotavirus)
Replikasi Sitoplasma, Virion tidak beramplop secara komplit
Ciri khas lain Penyusunan genetik terjadi secara mudah

Rotavirus merupakan penyebab utama diare pada bayi

 

Rotavirus memiliki RNA untai ganda. Virion rotavirus yang tidak berselubung terdiri dari 3 kapsid konsentrik yang mengelilingi genom RNA. Genom ini terbagi menjadi 11 segmen yang mengkode 6 protein struktural dan 6 protein non struktural. Rotavirus dibagi menjadi 7 grup, A-G, berdasar pada tipe epitop antigen pada protein struktural internal VP6. Antigen ini dapat dideteksi dengan teknik imunofluoresen, ELISA dan IEM (immune electron microscopy). Hanya grup A, B, dan C yang menginfeksi manusia.

Virion rotavirus mempunyai diameter keseluruhan sebesar 60-66 nm dan mempunyai lapisan kapsomer rangkap yang mengelilingi pusatnya dan memberikan gambaran sebuah roda.

Virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dalam sediaan tinja dari 20-40% anak berumur 5 tahun ke bawah yang menderita gastroenteritis. Di samping itu virion dapat dideteksi dalam tinja dari sebanyak 4% anak tanpa gastroentritis yang dirawat di rumah sakit.

Rotavirus menginfeksi sel-sel dalam vili usus halus dan berkembang biak dalam sitoplasma sitoplasma enterosit dan merusak mekanisme transportnya. Sel yang rusak dapat masuk ke dalam lumen usus dan melepaskan sejumlah besar virus, yang kemudian terdapat dalam tinja. Infeksi Rotavirus biasanya selama musim dingin, masa inkubasinya selama 1-4 hari. Penularannya melalui feses yang mengering dan disebarkan lewat udara.

 

  • SIKLUS HIDUP

 

Rotavirus menyerang dan memasuki sel enterosit yang matang pada ujung vili usus kecil. Virus ini menyebabkan perubahan pada struktur dari mukosa usus kecil, berupa pemendekan villi dan terdapatnya infiltrat sel-sel radang mononuklear pada lamina propria. Kelainan morfologis ini dapat minimal, dan hasil penelitian baru menunjukan bahwa infeksi rotavirus tanpa kerusakan sel epitel dari usus halus. Rotavirus menempel dan masuk dalam sel epitel tanpa kematian sel yang dapat menimbulkan diare. Sel epitel yang dimasuki oleh virus mensintesis dan mensekresi sitokin dan kemokin, yang mana langsung menimbulkan respon imun dari penderita dalam bentuk perubahan morfologi dan fungsi sel epitel. Peneletian baru juga mengatakan diare terjadi pada infeksi rotavirus karena adanya protein nonstruktural dari virus yang mirip dengan enterotoksin yang menyebabkan sekresi aktif dari klorida melalui peningkatan kosentrasi kalsium intra sel(6).

Rotavirus bereplikasi dalam sitoplasma sel inang. Virion masuk ke dalam sel host oleh mRNA endositosis dan virus ditranskripsi menggunakan RNA polimerase virus yang sudah ada dalam virion untuk membentuk unit struktural dari protein kapsid. Segmen mRNA dirakit menjadi kapsid dewasa dan kemudian direplikasi untuk membentuk genom RNA beruntai ganda.

Selama replikasi, rotavirus ligan di luar kapsid protein VP4 hemagglitinating mengikat reseptor asam sialic pada sel akan segera terinfeksi. Sebuah pembelahan VP4 oleh tripsin diperlukan untuk virion untuk masuk sitoplasma, situs replikasi rotavirus. Ini terjadi ketika virion membuat kontak langsung dengan sitoplasma. Retikulum endoplasma kasar mempertahankan VP7 lycoprotein luar kapsid. Dengan bantuan dari glikoprotein nonstruktural, kuncup rotavirus prekursor off ke cisternae dari retikulum endoplasma kasar dan memperoleh sebuah amplop sementara yang kemudian dihapus sehingga kapsid luar keseluruhan dapat dirakit oleh VP7. Para badan inklusi terbentuk 6-7 jam setelah infeksi pada sel yang terinfeksi. (7)

 

B.   PENYAKIT DIARE

 

  • DEFENISI

Diare adalah salah satu penyakit gastroenteristis (peradangan saluran pencernaan) pada manusia, khususnya pada bayi.

 

  • PENYEBAB DAN FAKTOR RESIKO

 

Penyebab

Rotavirus menular secara mudah dari kontak tangan ke mulut, bahkan dari mereka yang terinfeksi tetapi tidak memiliki tanda dan gejala.

Jika orang tua memiliki rotavirus dan tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet –atau anak memiliki rotavirus dan orang tua tidak mencuci tangan setelah mengganti popoknya atau setelah membantu anak menggunakan toilet- virus dapat menular melalui apapun yang di sentuh, antara lain makanan, mainan dan perlengkapan. Jika orang lain menyentuh tangan atau benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mulutnya, infeksi akan menyerangnya.

Terkadang penularan rotavirus dapat melalui air yang terkontaminasi atau titik uap pernapasan saat batuk atau bersin di udara.
Faktor risiko

Infeksi rotavirus paling umum terdapat pada anak usia 4 sampai 24 bulan –khususnya mereka yang menghabiskan waktu di tempat penampungan anak atau kelompok bermain. Pada orang dewasa dan orang dewasa yang merawat anak-anak, maka akan memiliki peningkatan risiko terinfeksi sama besarnya.(8)

 

  • MANIFESTASI KLINIS

Infeksi rotavirus khas mulai sesudah masa inkubasi kurang dari 48 jam dengan demam ringan sampai sedang dan muntah yang disertai dengan mulainya tinja cair yang sering. Muntah dan demam khas mereda selama hari kedua sakit, tapi diare sering berlanjut selama 5-7 hari. Tinja tanpa sel darah merah atau darah putih yang nyata. Dehidrasi mungkin terjadi dan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi. Walaupun kebanyakan neonatus yang terinfeksi dengan rotavirus tidak bergejala.

Dalam pandangan klinis infeksi rotavirus terus berkembang dari diare ringan sampai diare berat yang mengakibatkan dehidrasi, kekurangan elektrolit, shock dan kematian pada bayi dan anak-anak. Pada anak berumur diatas tiga bulan akan menimbulkan gastroenteritis, ketika terjadi reinfeksi akan gejalanya tidak muncul (asimptomatik). Masa inkubasi dari rotavirus adalah 1-3 hari. Dengan serangan tiba-tiba dan memberikan gejala demam, muntah dan diare berair (watery diarrhoea). Gejala gastrointestinal akan hilang setelah 3-7 hari, tetapi penyembuhan infeksi rotavirus mungkin bisa sampai 2-3 minggu.

 

  • PATOGENESIS

 

Rotavirus menginfeksi sel-sel dalam vili usus kecil (ditambah mukosa lambung dan usus besar). Mereka berkembang biak dalam sitoplasma enterosit sel-sel usus dan merusak mekanisme transportnya. Salah satu protein yang dikode rotavirus adalah NSP2 yang merupakan suatu enterotoksin virus dan merangsang sekresi dengan memicu suatu sinyal jalan pintas transduksi. Sel-sel yang rusak terkelupas masuk ke dalam lumen usus dan melepaskan virus dalam jumlah yang besar dapat tampak di feses (lebih dari 1010 partikel pergram feses). Infeksi rotavirus biasanya selama musim dingin, masa inkubasinya selama 1-3 hari. Penularannya melalui feses yang mengering  dan disebarkan lewat udara.

Ekskresi virus biasanya berakhir 2-12 hari dengan kata lain pasien sehat, tetapi bias berkepanjangan pada pasien dengan nutrisi buruk. Diare yang disebabkan oleh rotavirus bisa terjadi karena kelemahan absoprsi natrium dan glukosa karena kerusakan sel-sel pada vili yang digantian oleh sel-sel tersembunyi dan immature dan tidak dapt mengabsorpsi. Bisa memakan waktu 3-8 minggu untuk kembali ke fungsi normal.

Rotavirus ditularkan melalui jalur fecel-oral. Penularan dari orang ke orang melalui tangan yang terkontaminasi mungkin merupakan cara penularan rotavirus yang paling penting dalam komunitas yang sempit misalnya tempat perawatan anak-anak dan orang tua, rumah-rumah penitipan, rumah-rumah keluarga.

Orang sakit dapat mengkontaminasi makanan apabila ia menangani makanan yang selanjutnya tidak dimasak sebelum disajikan, seeperti salad, buah, dan makanan pembuka (hors d’oeuvre). Rotavirus sangat stabil di lingkungan, dan pernah ditemukan di sampel di daerah muara pada level setinggi 1- partikel infektif/L.

 

  • PENGOBATAN

 

Diare merupakan suatu gejala dan pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difeoksilat, codein, paregoric (opium tinctur), loperamide. Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psilium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare. Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pectin, atau attapulgit aktif. Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak mual dan tidak muntah bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.

Dasar pengobatan pada diare karena virus sama pada umumnya dengan diare yang lain. Pengobatan dengan suportif yaitu memperbaiki kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat menimbulkan dehidrasi, asidosis, syok dan kematian. Penatalaksanaan terdiri dari penggantian cairan dan memperbaiki keseimbanganelektrolit secara oral atau intravena, menurut keadaan masing-masing penderita. Selain pemberian cairan, pemberian makanan juga harus diperhatikan. Tetapi dietetic disesuaikan dengan status gizi penderita yang didasarkan pada umur dan berat badan.

Antibiotik tidak diperlukan pada diare karena diare ini bersifat self limited (dapat sembuh sendiri). Obat-obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti anti spasmodic/spasmolitik tidak dianjurkan untuk dipakai, karena akan memperburuk keadaan. Obat ini dapat menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus, dilatasi usus, gangguan digesti, dan absorpsi lainnya. Obat ini hanya berkhasiat untuk menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru akibatnya sangat berbahaya. Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi dapat bertambah berat.

Obat-obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin, norit dan sebagainya, telah terbukti tidak bermanfaat. Obat-obat stimulan seperti adrenalin, nikotinamide dan sebagainya, tidak akan dapat memperbaiki syok atau dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah kehilangan cairan (hipovolemik shock), sehingga pengobatan yang paling tepat yaitu pemberian cairan secepatnya.(2)

 

  • PENULARAN

 

Penyakit diare dapat ditularkan melalui:

 

  • Pemakaian botol susu yang tidak bersih
  • Menggunakan sumber air yang tercemar
  • Buang air besar disembarang tempat
  • Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh tangan yang kotor.(9)

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  • SIMPULAN

 

Rotavirus adalah virus yang apabila dilihat dari mikroskop electron, pada pinggir luar kapsid yang terlihat sebagai pinggiran suatu roda. Roda ini mengelilingi jari-jari yang memancar dari inti yang menyerupai pusat.

Rotavirus adalah virus yang sulit dibiakkan. Virus ini menginfeksi sel-sel dalam fili usus halus sehingga fili usus halus menjadi tumpul dan mengalami kerusakan. Selanjutnya, permukaan usus dengan fili yang tumpul  menyebabkan tidak mampu mengabsorpsi nutrisi makanan. Pada akhirnya akan keluar cairan yang biasanya disebut diare.

Diare yang disebabkan oleh rotavirus bentuknya sangat cair dibanding diare oleh sebab lainnya. Feses yang sangat cair, yang artinya banyak mengandung air inilah, yang merupakan penyebab diare yang paling banyak menyerang bayi-bayi usia 6 sampai 18 bulan.

Rotavirus banyak menyebabkan diare pada bayi-bayi yang sudah mulai makan, sebab penularannya melalui oral alias segala sesuatu yang masuk melalui mulut.(4)

 

  • SARAN

 

Mempraktekkan ilmu kesehatan yang baik adalah pencegahan terbaik. Seorang anak yang sakit dan orang di dalam rumah tangga harus sering mencuci tangan mereka. cuci tangan secara benar dan teratur –khususnya setelah anda menggunakan toilet, mengganti popok anak atau membantu anak menggunakan toilet. Tetapi bahkan mencuci tangan seksama tidak menjamin anda akan bebas dari infeksi virus.(10)

Sebagai tambahan, vaksin oral baru untuk mencegah infeksi rotavirus saat ini dianjurkan untuk diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

Selain itu, semua yang dapat mengenai tangan anak atau langsung masuk ke dalam mulut anak harus diawasi.

Tak kalah penting adalah pemberian ASI minimal 6 bulan. Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare. Selain ASI, imunisasi campak ternyata bisa mencegah diare dengan pemberian ASI eksklusif, karena air susu ibu terbukti memiliki zat anti Rotavirus.

Dengan memperhatikan hieginitas si kecil, misalnya dengan mencuci bersih semua alat makan dan minum bayi dan balita Anda, dan bagi si kecil Anda yang sudah bisa makan sendiri, pastikan ia sudah cuci tangan sebelum makan. Kuman ini memang sangat mudah menular dari satu anak ke anak lain. Cara penularan yang pertama adalah melalui makanan yang terkontaminasi kuman Rotavirus yang lalu masuk dalam mulut anak, dan yang kedua penularan secara person to person, atau kontak langsung antara penderita dengan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

 

     http://www.news-medical.net/health/What-is-Gastroenteritis-%28Indonesian%29.aspx

http://riezakirah.wordpress.com/

http://duniaveteriner.com/2009/06/vaksin-rotavirus-cegah-diare-akut/print

http://www.rsiatambak.com/artikel-pilihan/pemeriksaan-kehamilan.htmls

http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/rotavirus-20031.pdf

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/02/21/rotavirus-diarheae-mekanisme-terjadinya-diare-yang-disebabkan-rotavirus/

http://microbewiki.kenyon.edu/index.php/Rotavirus

http://health.kompas.com/direktori/yourbody/190/Rotavirus

http://medicastore.com/diare/pencegahan_diare.htm

http://medicastore.com/penyakit/3136/Infeksi_Rotavirus.html

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: